Saturday, May 17, 2014

Skizofriendia

             Teeeeeett.
Sore itu, bel sekolah dibunyikan, penanda jam sekolah hari ini telah usai. Beberapa guru yang ada di dalam kelas membubarkan siswi-siswinya dan mulai merapikan buku yang mereka gunakan untuk mengajar. Beberapa lainnya sudah berada di dalam ruang guru untuk beristirahat seusai mengajar. Para siswi pun beringsut-ingsut keluar dari kelas yang telah membelenggu mereka berjam-jam tanpa ampun.
Seperti biasanya, mereka yang sudah kelelahan menguras otak memutuskan untuk langsung pulang, kecuali satu orang. Seorang gadis pendiam yang tak memiliki teman. Seorang gadis yang selalu menjawab seadanya ketika ditanya.
“Masih nunggu dijemput mama?”  tanya bu Ani saat ingin keluar kelas.
“Iya bu.” Gadis itu menjawab dengan singkat. Masih terduduk di bangku kelas yang seharian ini ia duduki.
“Nunggunya di luar aja yuk, kelasnya nanti mau dikunci sama OB.”
“Hemm, iya deh.” Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya, keluar kelas bersama Bu Ani. Mereka berjalan melintasi koridor yang sudah mulai gelap. Melintas di depan kelas-kelas kosong yang redup cahaya lampunya.
Awan mendung di sore kali ini memaksa sekolah menjadi sunyi lebih awal. Kebanyakan guru dan siswi memutuskan untuk langsung pulang karena takut kehujanan saat perjalanan menuju rumah mereka. Hanya tersisa para OB yang mengunci ruang kelas dan beberapa guru yang masih betah mengobrol satu sama lain di dalam ruang guru. Sekolah yang begitu besar itu pun jadi terlihat seperti kota hantu yang ada di film-film. Ibu Ani dan gadis itu pun keluar dari gedung belakang yang tak sebesar gedung utama sekolah. Saat mereka melewati taman sekolah, gadis itu memperlambat langkah kakinya. Memperhatikan taman sekolah yang ditata dengan rapih.
“Bu, saya nunggu di sini aja deh.” Gadis itu menghentikan langkahnya.
“Bener? Ini mendung loh, nunggu di ruang guru aja yuk, biar ibu temenin.”
“Gak usah bu, saya di sini aja, nanti kalo hujan baru saya neduh di tempat ibu.” Gadis itu meyakinkan bu Ani.
“Yaudah kalo begitu. Nanti kalo mau ke ruang guru, ketok aja pintunya.”
“Iya bu.”
Gadis itu pun duduk di sebuah bangku taman sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang. Seseorang yang sudah pasti bukan mamanya.
“Pssstt, Rania!” Sebuah bisikan memanggil gadis itu dari balik pohon beringin tua yang berada tak jauh dari tempatnya.
Dan, yah, Rania adalah nama gadis yang dari tadi kita bicarakan. Seorang gadis cantik berkulit bersih bermahkotakan rambut hitam panjang, memiliki tinggi diatas rata-rata bak seorang model dan ditambah lagi, kecerdasan otaknya yang telah berhasil memberikan beberapa piala olimpiade sains bagi sekolahnya ini. Hanya dengan melihatnya sekali saja, banyak orang yang akan mengira dia adalah anak dari seorang bangsawan.
“Kenapa baru datang sekarang? Dari tadi aku nungguin kamu di kelas.” Rania tampak agak sebal.
“Hahaha, maaf, maaf, aku ada urusan sebentar tadi hahaha.” Sesosok remaja keluar dari balik pohon.
“Ah males ah, alasannya selalu aja begitu.”
“Ya karena memang begitu, kan aneh juga kalo ada laki-laki di sekolah khusus perempuan haha.” Remaja itu pun duduk di sebelah Rania.
“Iya sih,” Rania tertunduk mendengar kebenaran yang diucapkan remaja itu. Terjadi keheningan di antara mereka. Hanya terdengar suara daun-daun yang bergesekan terkena semilir angin mendung. Seakan sedang berbisik membicarakan muda-mudi itu.
“Nanda,  tadi mereka jahat lagi sama aku,” kata Rania mengadu.
Nanda adalah seorang remaja yang usianya 2 tahun lebih tua dari Rania. Perawakannya tinggi, tampan, berambut kecoklatan dan selalu terlihat santai, seperti tak punya beban pikiran sedikit pun dalam kepalanya.
“Hmm? Mereka siapa?” tanya Nanda sambil menoleh.
“Ya mereka, yang sering aku ceritain ke kamu itu loooh.”
“Oooh itu, iya, iya, kamu diapain lagi emangnya?” Nanda masih mencoba mengingat-ingat wajah 3 orang gadis sok populer yang sering dibicarakan Rania.
“Aku dikunciin di kamar mandi lagi. Kata mereka orang aneh kayak aku tuh gak pantes sekolah di sini.” Rania menyandarkan kepalanya ke bahu Nanda.
“Halah, mereka itu cuma iri karena kamu sering menang lomba sains, gak usah dipeduliin. Makanya kamu juga cari temen dong biar ada yang belain, masa udah dua tahun sekolah di sini masih gak punya temen?”
“Temenan ama siapa? Semuanya sama aja kok, selalu nganggap aku beda, selalu ngeliat aku dengan tatapan aneh. Emang aku seaneh itu ya?” tanya Rania dengan kepala yang masih bersandar di bahu Nanda.
“Kamu itu bukan aneh, justru kamu itu spesial, kayak martabak manis, makanya aku suka hahaha.” Nanda tertawa sambil merangkul bahu Rania.
“Gak nasi goreng aja sekalian?” Rania langsung manyun karena tidak mendapat jawaban yang serius.
“Kamu kan manis, mana ada nasi goreng manis?” Nanda melemparkan senyuman termanisnya pada Rania.
“Iiiiiih apa sih?” Rania memukul pelan perut Nanda. Seketika wajahnya pun menjadi merah padam.


***

Sebuah sedan hitam memasuki gerbang sekolah. Sebuah sedan mewah yang sudah pasti sangat mahal harganya. Sedan itu pun parkir di halaman sekolah yang terlihat luas tak terkira karena sudah kosong.
“... iya, iya, saya akan bahas ini lagi di meeting besok. Apa? Jam sepuluh? Ya, pasti, pasti. Saya mau jemput anak saya dulu, selamat sore.”
Beep.
Akhirnya handphone dimatikan. Entah sudah berapa lama wanita karir itu berbicara dengan kliennya. Dia pun menutup pintu mobilnya dan berjalan agak tergesa menuju gedung sekolah. Wanita itu terlihat begitu elegan dengan blazer dan tas mewah yang serasi. Rambutnya pun tertata dengan baik.
Sampailah ia di depan ruang guru. Berhenti di depan pintu. Ragu, karena ruang guru terlihat sepi dari luar.
“Selamat sore, mamanya Rania yah?”
“Eh, bu Ani, baru saja saya mau masuk.” Wanita itu agak terkejut oleh suara bu Ani di belakangnya.
“Mau jemput Rania?”
“Iya, tapi dari tadi saya gak liat dia di gerbang.”
“Dia mau nunggu di taman aja katanya bu, padahal sudah saya ajak nunggu di sini. Mari bu saya antar.”
“Oh iya, terima kasih.”
Bu Ani yang baru saja sampai di ruang guru langsung mengantar wanita itu menemui anaknya. Berjalan menyusuri koridor menuju taman sekolah yang berada di balik gedung utama sekolah. Langkah kaki mereka bergema di koridor panjang yang serasa tak berujung.

***

Sore itu, taman sekolah tak lagi terdengar sunyi. Taman itu kini telah diwarnai oleh canda dan tawa seorang gadis. Angin pun terus bertiup demi membuat daun-daun tetap berbisik sebagai musik latar suara tawa Rania. Suara gemericik air yang ada di kolam ikan pun tetap konsisten dengan temponya demi menjaga keharmonisan musik alam sore itu. Helai-helai rambut panjang Rania melambai-lambai terkena tiupan angin yang akan terasa lembut jika menerpa wajah. Sebuah video klip indah pun baru saja diciptakan oleh alam.
“Nanda, aku takut,” raut muka Rania tiba-tiba berubah karena teringat sesuatu.
“Kok jadi tiba-tiba berubah gitu? Kamu takut kenapa?”
“Mulai besok aku pindah sekolah....” kata Rania lemas.
“Terus kenapa kalo pindah sekolah? Takut gak bisa ketemu temen-temen lagi? Emang punya temen disini? Hahaha...,” Nanda tertawa meledek, “... lagian kan bagus, mungkin aja kamu bisa dapet temen di sekolah baru itu.”
“Iiiih, bukan itu! Masalahnya itu aku gak suka sama sekolah baru aku nanti.”
“Kok bisa gak suka? Emang udah liat sekolahnya?”
“Udah, dulu waktu masih kecil aku pernah sekolah di situ. Bangunannya jelek, kayak rumah sakit gitu, aneh pokoknya, aku gak mau sekolah di tempat kayak gitu lagi.”
“Yaudah, nanti juga biasa kok. Waktu itu juga kamu gak mau kan sekolah disini karna bangunannya kayak kantor? Hahaha,” Nanda tertawa kecil, “lagian mama itu pasti pengennya yang terbaik buat kamu, biar kamu bisa punya temen juga.”

***

Dua sosok wanita tengah berdiri di depan pintu kaca. Satu-satunya pintu belakang gedung utama yang menjadi tempat lalu lalangnya warga sekolah. Kedua sosok wanita itu mematung di depan pintu kaca tanpa membukanya sedikit pun. Mata mereka tertuju pada seorang gadis yang duduk di taman sekolah.
“Maaf bu, kalau boleh saya bertanya, siapa itu Nanda?” tanya bu Ani mulai membuka perbincangan.
“....” Mama Rania diam, tak bersuara, masih memperhatikan anaknya. Jauh dibalik punggung Rania, dari balik pintu kaca.
“Rania sering membicarakan Nanda, dia sering duduk sendirian, menunggu Nanda katanya,”
“....” Mama Rania tetap diam, meskipun air mata mulai mengaliri pipinya. Melunturkan make up mahalnya sedikit demi sedikit.
“Maaf, kalau pertanyaan saya menyinggung anda atau kurang sopan, tapi sebagai wali kelas Rania, saya harus tau keadaan anak didik saya.” Bu Ani tetap bersikukuh dengan pertanyaannya meskipun ada rasa tidak enak dalam dadanya.
“Hanya Rania yang bisa melihat Nanda,” kata mama Rania sambil menahan tangis.
“Mungkinkah makhluk astral penunggu sekolah? Apa itu sebabnya Rania menarik diri dari teman-teman kelasnya?” bu Ani bertanya-tanya dalam hatinya.
“Sejak kecil Rania mengidap sebuah penyakit yang membuat psikologisnya jadi terganggu.”
“Penyakit mental? Bagaimana bisa? Maksud saya, Rania itu anak yang pandai. Dia bahkan jadi juara olimpiade tingkat nasional.”
“Skizofrenia.” Air mata mama Rania semakin tak terbendung sehingga membasahi pipinya.
Bu Ani kembali memperhatikan Rania, merasa mulai mengerti mengapa Rania agak sedikit berbeda dengan siswi-siswi lainnya.
“Akhir-akhir ini dia mulai menyakiti dirinya sendiri, jadi mulai besok Rania akan direhabilitasi lagi, entah untuk berapa lama. Mungkin juga Rania harus berhenti sekolah, saya akan urus semuanya besok.” Mama Rania menghapus air matanya dan mulai mengatur napasnya lagi.
“Besok? Agak mendadak sebenarnya, tapi kalau memang harus begitu, nanti saya akan membantu mengurus izin ke pihak sekolah.” Bu Ani membukakan pintu untuk mereka. Mengajak mama Rania menuju teras belakang. Mama Rania pun masih sibuk menghapus air matanya dan menyiapkan senyum termanis untuk menyambut anak semata wayangnya.
“Raniaaa! Mama mu sudah datang!” Panggil bu Ani sambil melambaikan tangan.

***

“Nanda, aku gak mau pisah lagi sama kamu, aku gak mau kamu pergi.”
“Rania, gak usah takut, gak akan mungkinlah aku ninggalin kamu, karena kamu aku ada.”
“Tapi--”
“Raniaaa! Mama mu sudah datang!” Panggil bu Ani sambil melambaikan tangan.
Rania tercekat, ia menoleh dengan cepat. Bu Ani dan mamanya sudah menunggu di teras belakang gedung sekolah.
“Udah dijemput tuh, udah sana pulang jangan bikin mama nungguin haha.” Nanda masih duduk dengan tenang.
“Nanda, tapi aku gak mau pisah, cuma kamu satu-satunya temen aku! Aku mau terus kayak gini.” Suara Rania bergetar.
“Rania, dengerin aku, kita gak akan pisah. Selama kau mengingatku, selama itu pula aku ada.” Nanda memegang erat bahu Rania dan mengguncangnya pelan.
“Nanda....” Rania menatap Nanda. Pelupuk matanya mulai penuh dengan air mata.
“Percayalah.” Nanda menatap Rania dalam-dalam. Berusaha membuat hati Rania mantap.
Rania pun berdiri. Perlahan berjalan meninggalkan taman sekolah itu menuju mamanya yang tengah berdiri menunggunya. Sebuah hembusan angin yang cukup kuat menerpa wajah Rania.
“Dan ingatlah Rania, aku akan selalu hidup dalam hati dan pikiranmu.” Suara angin menghantarkan bisikan Nanda ke telinga Rania.

Rania menoleh ke belakang, mancari sosok Nanda. Tapi ia tak menemukan siapa pun. Hanya daun-daun yang berterbangan karena hembusan angin. Rania pun tersenyum dan menghapus air matanya. Kini ia benar-benar yakin, Nanda takkan pernah meninggalkannya.

No comments:

Post a Comment